Senin, 15 April 2013
Rabu, 27 Februari 2013
Lope-lope tapi Pete-pete
Oh,
wow. Kalau diucap berulang-ulang, lucu badai ya lope-lope tapi
pete-pete? Ups, baru dengar istilah ini Sob. Yuk kulik.
Istilah
ini memang masih asing. Secara, kalau dikulik lebih dalam ala-ala
setajam golok Ciomas, istilah ini cocok banget buat pasangan yang
mandiri abis. Biasanya, kalau pacaran tuh selalu ingin dibayari. Tapi
ini mah malah bayar sendiri alias bayar masin-masing. Alhasil ya
pete-pete gitu deh.
Masih
belum ngeh juga, Sob-X? Misalnya mau hangout.
Tapi cowok kamu (buat yang cewek nih) langsung bilang, “Beib, kamu
bayar sendiri ya.” Atau, “Beb, kita bayar masing-masing ya?”
We
o we nggak tuh. Kesannya si cowok pelit banget ya Sob-X? Tapi berbeda
kalau pernyataan pete-pete ini keluar dari bibir si cewek. Kesannya
juga lain. Misalnya, pas mau dibayari, si cewek langsung bilang,
“Beb, aku bayar sendiri aja ya.” Duhh, baik banget nih cewek,
perhatian. Tahu aja kalau cowoknya bokek sekarat, hehe. Gimana dengan
kamu?
Pian
Kavy Via, yang pernah ngalamin punya cowok pete-pete berkoar nih.
Menurut pengalaman doi, pacar kayak gini kadang bikin bete sampai
nggak hilang tujuh hari.
“Malu
banget dong, saat kita makan atau jalan ujung-ujungnya cowok kita
bilang, kamu yang bayarin yah. Huh, rasanya empet banget dah. Kalau
kita yang ngajak jalan sih nggak masalah ngebayarin, lah kalau dia
yang ngajak jalan kan nggak banget. Mending nih kalau kantong kita
tebel, kalau lagi tipis kan jadinya miris,” curcol kelahiran 1991
ini.
Lebih
parahnya Sob-X, pas double
date.
Yang menjengkelkan, pasangan Sob-X malah minta temennya yang bayarin
atau bayar setengahnya. Haduh, nggak banget kan? Inginnya sih happy
tapi nggak mau berkorban alias ber modal. Jadi terpikir dong, si
cowok ini pelit atau beneran boke yah. Haha. Menurutmu?
Ulala
yeye,
Mira Witasari bilang, sebagai pacar yang baik harus mengerti dan
tahu pasti kondisi cowoknya. “Kalau udah biasa minta dibayari atau
bilang kita pete-pete, itu sih udah kelewat wajar, mending tinggalin.
Cinta sih cinta, tapi nggak gini-gini juga kali, haha. Tapi kalau
cuma sesekali, yah wajarin aja. Mungkin lagi beneran boke, hee,”
ucap mahasiswi Akper Yatna Yuana Lebak ini bijak.
Hmmm,
lope-lope tapi pete-pete emang lucu Sob. Selucu namanya. Tapi nggak
segitunya kali ya. Kalau kita saling mengerti mah, nggak masalah dong
saling berbagi asal jangan keseringan aja minta dibagi.
Asal
tahu Sob,
dalam
menjalin hubungan bukan hanya mikirin materi?
But,
bagaimana harus bisa saling mengerti dan memahami pasangannya.
Lope-lope
tapi pete-pete bisa dikurangi dengan saling terbuka dan berbagi.
Supaya nggak salah paham gitu deh. Selain itu, nggak merugikan
sebelah pihak. Oke deh, salam ya buat pasangan yang lope-lope tapi
masih pete-pete. Semoga cepet insyaf, hehe.
Peduli Dunia Anak
![]() |
|
Anesa
Nestiana Agustina
|
Ramah
dan penuh simpati. Inilah tanggapan pertama saat bertemu cewek
bernama lengkap Anesa Nestiana Agustina yang dinobatkan sebagai
sebagai duta anak Provinsi Banten. Siswi SMAN 3 Rangkasbitung, Lebak
ini, memang cocok banget dinobatkan duta anak karena dalam
kesehariannya selalu peduli pada dunia anak khususnya anak di Lebak.
Cewek
yang memiliki segudang prestasi di antaranya juara I lomba menulis
naskah berita se-Kabupaten Lebak, juara III lomba cipta puisi,
finalis Forum Anak Nasional, sebagai salah satu siswa berprestasi
yang dipercaya menulis esai untuk Kabupaten Lebak dan masih banyak
lagi ini memiliki misi yang mulia dalam meningkatkan kesejahteran
hidup anak-anak yang kurang beruntung.
Anesa
mengungkapkan, sangat prihatin pada kondisi anak-anak yang tidak
bisa sekolah karena keadaan ekonomi yang kurang. Untuk itu ia
membentuk komunitas Imah Urang yang menjadi wadah dalam mengumpulkan
anak-anak untuk sama-sama belajar. Menurut Anes anak-anak ini
memiliki potensi dan bakat yang bagus tinggal bagaimana diarahkannya
saja.
“Kita
biasa kumpul seminggu sekali dan tempatnya mana saja. Tempat ini
selalu kita namakan Imah Urang. Tidak hanya anak-anak tapi orang tua
pun selalu ikut belajar bersama. Di samping itu saya juga mengajarkan
budaya permainan terdasional pada anak agar anak kenal dan cinta
budaya tradisional,” ungkap Anesa.
Anesa
yang duduk di bangku kelas tiga ini juga pernah berkunjung ke
berbagai daerah di Lebak dalam mendata anak-anak yang kurang mampu.
Mengusulkan akte gratis bagi mereka dan masih banyak kegitan lainnya.
“Saya
berharap Forum Anak Daerah maupun Provinsi lebih peduli dan
memperhatikan lag idunia anak sehingga tidak ada anak yang
terlantar,” harap Anesa.
Kelas Fiksi Gali Proses Kreatif
![]() |
| Reni Erina saat gali proses kreatif di Rumah Dunia |
Reni
Erina menjelaskan, proses kreatif dalam menulis sangat banyak, mulai
dari menemukan dan mengembangkan ide, menentukan landasan karakter
dan tokoh, pendalaman karakter, memasukkan tokoh tambahan, dan
sebagainya. Menurutnya, ketika menulis seseorang harus tahu akan
menulis apa, bagaimana menulis, dan untuk apa menulis.
“Tidak
ada kebiasaan dalam menulis harus dimulai dari membuat judul atau ide
terlebih dahulu. Mengalir saja, yang terpenting ketika menemukan ide
harus segera ditulis dan dikembangakan,” ungkap Managing Editor
majalah Story ini.
Reni
menambahkan, dalam menulis biasakan membuat bagan atau kerangka
karangan untuk mengarahkan tulisan. Selain itu, penulis harus
menghadirkan tulisan yang memiliki kekuatan atau ciri khas.
“Setelah
proses kreatif menulis di lewat dan memiliki naskah yang sudah jadi
maka seorang penulis butuh apresiasi. Apresiasi ini tidak mesti
langsung di terbitkan, tapi oleh orang-orang terdekat seperti
keluarga, sahabat atau tetengga,” jelasnya.
Yana,
salah satu peserta Kelas Menulis menuturkan, pelatihan ini memberikan
banyak ilmu dan pembelajaran berharga. Salah satunya cara membuat
kerangka karangan agar tulisan rapih dan sistematis.
“Pelatihan
ini luar biasa banget bagi kita yang ingin bisa menulis. Nggak salah
deh gabung di Rumah Dunia karena di sini kita bisa belajar banyak
dari penulis-penulis hebat,” ungkapnya.
Open House sebagai Eksistensi Yayasan
|
Ketua
dan pengurus Yayasan Lapenta
foto bersama tamu undangan, Sabtu (9/2).
|
SERANG
- Yayasan Lembaga Pendidikan Tirtayasa Banten, terus menunjukkan
eksistensinya terhadap dunia pendidikan di Banten dengan memberikan
kontribusi sistem pendidikan yang menekankan pada keilmuan Islam dan
teknologi. Eksistensi ini dikenalkan Yayasan Lapenta pada open
house
yang digelar mulai dari 4-9 Februari dengan mengikutsertakan 250
peserta dari 14 TK dan 14 SD se-wilayah Serang.
Dalam
kesempatan open
house
yang kali pertama digelar dalam satu kepanitian dari masing-masing
unit lembaga pendidikan Tirtayasa ini, dihadiri tamu undangan dari
kampus Untirta dan Dinas Pendidikan, pihak sponsor serta seluruh
pengurus Lapenta. Pada puncak acara, Sabtu (9/2), Ketua Yayasan
Lapenta Tb Yayat Sukiat menuturkan, open
house
ini merupakan acara regulasi promosi informasi mengenai program dan
kegiatan di sekolah. Kegiatan tersebut juga bertujuan melatih percaya
diri anak dan memacu kreatifitas anak dengan diadakan aneka lomba
yang menyenangkan seperti olahraga, kesenian, dan wawasan
pengetahuan.
“Lapenta
merupakan yayasan yang mengelola dan menaungi pendidikan mulai dari
Play Grup hingga SMA. Kami terus memotivasi mengembangkan
kreativitas dan menjaring anak-anak berprestasi. Potensi yang
dimiliki Lapenta perlu dukangan dari semua pihak agar tercipta
pendidikan berkarakter dan berakhlak mulia melalui wawasan keislaman
dan teknologi informasi tersebut,” ungkap Yayat seusai acara.
Ketua
Pelaksana Hilda Noviyani mengungkapkan, kegiatan yang bertemakan
'Mengembangkan Kreativitas Anak Indonesia yang Berkarakter dan
Berakhlak Mulia' ini menggelar pelombaan seperti futsal, fashion
show,
cerdas cermat, mewarnai dan hafalan doa. Hilda menuturkan, kegiatan
ini juga sebagai ajakan pada masyarakat luas untuk terus peduli pada
pendidikan anak.
“Dalam
kegiatan ini anak-anak bisa mengeksplor bakat dan kemampuannya dengan
percaya diri berani tampil dan berkreativitas. Penampilan ini mulai
dari pidato bahasa Inggris, Mandarin, seni tari dan musik. Kami
berharap, sarana dan prasarana yayasan semakin maju dan berkembang.
Kurikulum pembelajaran pun menggunakan notebook dan wifi,”
ungkapnya.
Arcapala Konsisten Cintai Alam
![]() | |
| Arcapala saat membantu pasca korban banjir |
Alam
menjadi wadah yang sangat vital dalam menaungi kehidupan makhluk di
bumi. Sudah selayaknya menjaga keasrian dan ke alamian alam adalah
tanggungkawab semua pihak tanpa terkecuali. Sehingga tidak lagi
adanya bencana alam yang di timbulkan karena kerusakan alam tersebut.
Untuk
itu komunitas Arah Cakrawala Pecinta Alam (Arcapala) Banten,
konsisten menjaga dan mencintai alam dengan sebaik-baiknya. Dalam
kegiatannya, komunitas yang baru diresmikan 2 September 2012 ini
sudah banyak memberikan kontribusi pada masyarakat baik dalam
menyosialisaikan tentang alam atau pun ikut serta dalam membantu
penanggulangan dan korban banjir. Kegiatan lainnya yaitu melakukan
operasi bersih dan mengadakan reboisasi.
Ketua
umum Arcapala Muhamad Riezky Novtriansyah mengungkapkan, komunitas
yang berasal dari berbagai latar belakang stastus ini terbentuk dari
keprihatinan terhadap keadaan alam khususnya di Banten yang sedang
mengalamai masa transisi. “Kami menjembatani dan menjadi
fasilitator bagi masyarakat dan berupaya membangun serta menumbuhkan
kembali kecintaan pada alam. Seperti moto kami yaitu dalam perbedaan
satu hati, satu tujuan, cintai dan lestarikan alam kami terus
konsisten melestarikan alam,” ungkap lelaki yang biasa disapa Kiwil
ini.
Sekretaris
Umum Arcapala Devit Liawanto menambahakan, komunitas yang
beranggotakan 13 orang ini memiliki wacana mengadakan penanaman
pohon, pembibitan, penelitian, membuat apotik hidup, melakukan kerja
sama dengan LSM untuk membentuk hukum lingkungan hidup agar tidak
terjadi lagi perusakan alam dan masih banyak agneda lainnya.
“Kami
turut bergerak membantu pemerintah dalam penanganan kerusakan alam
salah satunya memberikan kesadaran pada generasi muda tentang
pentingnya alam bagi kehidupan,” tambahnya.
Memotivasi Anak Cerdas dan Kreatif
|
Penampilan
tari pada Gemes episode 1 yang syuting
di Studio Barayatv, Selasa
(29/1).
|
Saat
ini, anak-anak semakin asyik dengan kecanggihan teknologi. Kadang,
orangtua malah bangga saat anak-anaknya bermain laptop atau ipad.
Kekhawatiran
dan kerinduan pada dunia anak inilah yang menjadi alasan Pusat
Pengembangan Kreativitas Anak, sanggar Estikantara Kota Serang
mengadakan program hiburan Gemes atau Gembira Membangun Semangat.
Program pelatihan dan pengembangan bakat anak bekerja sama dengan
BarayaTv, Dinas Pendidikan Kota Serang, dan sekolah se-Kota Serang
ini rencananya mulai tayang Sabtu (2/2). Syuting perdana dilakukan
Selasa (29/1).
Pimpinan
sanggar Hanindyasita bilang, program ini untuk mengordinir orangtua
agar ikut terlibat langsung dalam melatih dan mengembangkan bakat
anak. Sanggar ini juga memfasilitasi segala kebutuhan anak dalam
mengembangkan bakatnya baik fasilitas gedung atau pun peralatan
kebutuhan latihan lainnya. Sehingga, masyarakat tidak lagi perlu
khawatir kehilangan pengembangan diri pada dunia anak. Salah satu
kegiatan yang dikembangkan adalah melatih anak dalam seni tari,
menyanyi, akting, dan presenter televisi. Hasil latihan dan karya
anak-anak ini ditayangkan di BarayaTv.
“Dunia
seni diharapkan dapat bersinergi dengan psikologi anak, sehingga anak
bisa tumbuh sesuai perkembangannya, anak menjadi cerdas dan kreatif
berkarya. Hal ini juga untuk memfilterisasi agar anak tidak
menirukan kehidupan orang dewasa yang jauh diatas perkembangan
umurnya,” tuturnya setelah syuting di Studio BarayTv, Selasa
(29/1).
Dalam
tayangan perdana, menghadirkan kreasi guru dan siswa seperti opera
dan berbagai macam tari dari SDN Cipocok Jaya 1 dan TK Melati
komplek Korem Cilaku. “Saya berharap, khususnya BarayaTv bisa
menjembatani tayangan-tayangan acara anak yang mendidik dan
menghibur. Sehingga anak merasa memiliki dan punya wadah untuk
menyalurkan bakat serta mengeksplor kemampuan mereka dalam dunianya.
Semoga ke depannya penayangannya tidak hanya merangkul
sekolah-sekolah di Kota Serang, tapi seluruh Banten bisa ikut
mengembangkan bakat anak-anak ini,” tambahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)


